Selasa, 02 Juli 2013

Sugeng Ambal Warso, Abi(◕‿◕)


“Beberapa ranting pepohonan mungkin merasa belum pantas terjatuh, ketika belum saatnya rapuh.”
***

Teruntuk abiku tersayang,
Salam hormat dari ananda di perantauan.

Pagi ini, memang harus kusyukuri karena aku masih diberi kesempatan untuk menjelang datangnya hari ini. Ya, hari ini kan tanggal 29 April . Aku tak pernah memiliki niat sedikitpun untuk melupakan moment khusus seperti saat ini. Tapi aku yakin, engkau mungkin sudah berusaha keras untuk melupakan dan tak pernah menyinggung-nyinggung atau bahkan merayakan kedatangan hari kelahiranmu ini.

***

Abi, semakin hari aku semakin mengagumimu.
Engkau bahkan tak terlihat semakin menua di usiamu yang telah melewati separuh abad itu.
Bahkan semakin terlihat tangguh saja engkau dimataku.

Abiku tersayang,
rasanya banyak sekali yang ingin kuungkapkan kepadamu, tapi seringkali aku tak sanggup berkata apa-apa ketika berada di depanmu.
Mungkin,aku terlalu menghormatimu, atau mungkin pula aku terlalu bangga padamu.



Abi, maafkan ananda ya...
karena kini sudah mulai dewasa, hingga mungkin ananda sudah tak selucu dan tak semanis dulu saat masih balita;
karena kini sudah mulai dewasa, dan sepertinya putrimu ini sudah tak terhitung berapa banyaknya menghabiskan biaya... yang jelas-jelas itu dari hasil jerih payahmu selama ini untuk menghidupiku, hingga usiaku hampir menginjak hitungan “kepala dua”.

Abi,
Salahkah aku?
Ketika aku merindukan saat-saat dulu dimana aku merasa begitu dekat denganmu, merasa nyaman berada dipangkuanmu.
Ketika aku merindukan saat-saat dulu dimana aku merasa begitu tenang ketika aku merasa takut kemudian bersembunyi dibalik badanmu.
Ketika aku merindukan pelukan hangatmu apabila aku bersedih.
Salahkah aku?
Ketika aku juga merasa marah dengan kenyataan bahwa kini “aku sudah tak semanis dan tak selucu dulu lagi”, hingga engkau pun terlalu menguji kemandirianku ini.
  
Abi, engkau lelaki paling hebat yang terlalu setia membesarkan seorang anak perempuann yang“serewel” aku. Jadi, jangan salahkan aku jika aku selalu berdo’a agar kelak pendamping hidupku juga tak kalah setianya denganmu.

***

Senin, 29 April 2013.
Tentunya adalah hari yang indah bagimu, Abi. Hari dimana usiamu bertambah satu angka, pertanda bertambah pula jumlah uban yang ada di mahkotamu. Aku teringat tahun-tahun yang lalu dimana engkau terlihat gelisah di hari indahmu ini, “gelisah karena harus rela jatah hidupnya di dunia ini berkurang...tapi jangan kau bilang lagi semakin sedikit jatah kebersamaanmu dengan keluarga (sedih aku mendengar kata-kata yang ini)”.  Sehingga engkau selalu merayakannya dengan menjalankan puasa di hari yang special ini, memang tak pernah “neko-neko” engkau dalam mensyukuri hari kelahiranmu ini, bahkan katamu lebih pantas kalau untuk intropeksi diri.
Aku ingin sekali melihatmu bahagia untuk saat ini dan seterusnya. Karena aku sedih jika di usia tuamu yang seharusnya tak perlu bekerja lebih keras lagi, tapi masih saja engkau merasakan letihnya mencari nafkah untuk keluarga, membiayai sekolah adik-adikku; membiayai kuliahku. Aku sedih jikalau melihatmu saat bangun tengah malam beribadah, memohonkan kebahagiaan untuk kami, padahal kami sering lupa memohonkan kebahagiaan untukmu. Aku lebih sedih lagi saat melihatmu hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat; meski hanya sejenak  merebahkan sedikit beban pikiranmu, beban di punggungmu.
Ketahuilah, Abi.
Aku selalu bangga dan aku sangat salut atas kesetiaanmu pada keluarga, kesetiaanmu pada agama. Aku bangga mempunyai sosok ayah sepertimu yang  senantiasa mendidik anak-anakmu dengan tongkat iman yang selalu kau sertakan dalam setiap lantunan nasehatmu.  Aku juga bangga melihatmu yang tak bosan melaksanakan shalat berjamaah di masjid meski shaf-shaf ma’mummu terlihat kian hari kian sedikit.

“Sugeng ambal warso, Abi...
Salam sayang selalu tercurah dari ananda di perantauan.
Do’a saking ananda:
mugi-mugi tambah sae sedayanipun, panjang yuswo, tambah sayang kaliyan umi, kaliyan denok lan adik-adik. Mugi-mugi tambah dipun lancaraken urusanipun ten donya menika. Tambah lancar rejekinipun, dipun paringi kesehatan lan kekiyatan kaliyan Gusti ingkang Maha Kuwaos kagem nindakaken ibadah. Dipun jagi iman lan taqwanipun, tetep jagi katresnanipun  kaliyan umi. Mugi-mugi amal-ibadahipun Abi dipun gantos Suwargi kaliyan Gusti Allah. Amin”

(Sedih, hari ini tak bisa pulang ke rumah...tak bisa berjumpa denganmu, tak bisa melengkapi hari bahagiamu, Abi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo...(˘‿ ˘)
yang pada mampir sempatkan berkomentar ya (Adik2, Mas-Mbak, Om-Tante, Pakdhe-Budhe, Mbah Kakung-Mbah Uti)
Sekedar bilang suka/tidak suka, jelek/menarik,
atau opini2, masukan, kritik & saran sangat berarti untuk tulisan2 saya selanjutnya agar lebih baik.